Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah tulisan dari Dr. Mas’oed mengenai ekonomi-politik pariwisata dalam sebuah mahakaryanya. Tulisan tersebut menjelaskan mengenai fenomena yang terjadi dalam hubungan internasional yaitu arus perjalanan manusia di seluruh dunia yang meningkat luar biasa sebagai akibat dari peningkatan perjalanan antarnegara untuk keperluan bisnis dan profesional, pariwisata, belajar ke luar negeri dan lain sebagainya. Akibatnya, banyak di antara manusia modern sekarang ini menjadi “pemotong garis perbatasan antar negara”, yaitu orang-orang yang melakukan perjalanan secara bebas. Hal tersebut didukung pula dengan era globalisasi saat ini yang menciptakan sebuah ketidakterbatasan dalam ruang dan waktu.
“The Economist”, sebuah majalah asing menjelaskan lebih dari 20 juta pelancong dari negara-negara kaya setiap tahunnya menghabiskan waktu liburannya di negara-negara dunia ketiga. Mereka menikmati keindahan Matahari, pantai dengan begitu indah, sisa-sisa peradaban: candi,bangunan tua dan lain sebagainya yang tidak dapat mereka temui di negara asalnya.
Sekilas memang fenomena tersebut terlihat biasa saja namun yang menarik adalah apakah dengan adanya peningkatan jumlah pelancong ke negara-negara dunia ketiga akan menstimulasi perkembangan ekonomi serta membawa dampak positif bagi pembangunan kawasan?
Secara gamblang, kita dapat menyebutkan bahwa dengan peningkatan arus pelancong ke bebagai negara dunia ketiga, seperti Indonesia, otomatis akan membawa “angin segar” bagi industri pariwisata kita apalagi dengan digalakkannya pariwisata Indonesia oleh pemerintah dengan tema “Visiting Indonesia 2008” dengan “menjual” keindahan Bali, Candi Borobudur, Malioboro dan berbagai macam tempat wiasata lainnya ke dunia luar yang pastinya dapat meningkatkan sumber devisa bagi negara.
Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa negara tujuan wisata pada akhirnya hanya menerima 10% dari uang yang dibelanjakan oleh para turis. Bagaimana hal ini dapat terjadi??
Pariwisata merupakan bisnis yang tidak terfokus pada satu atau dua corporasi. Kalau dalam industri computer, kita mengenal Microsoft, dalam industri olah raga ada Nike, Adidas, Reebok yang mendominasi. Sehingga tidak ada satu perusahaan yang mendominasi industri pariwisata. Semua industri seperti, perusahaan penerbangan (KLM, Lufhansa, North West), jaringan perhotelan (Hilton, Hyatt, Sheraton), operator wisata, perusahaan perkapalan berperan dalam kegiatan pariwisata di dunia. Dapat kita perhatikan bahwa hampir semua corporasi yang melibatkan diri dalam kegiatan pariwisata diberbagai belahan dunia didominasi oleh aktor-aktor dari negara industri maju.
Penjelasannya adalah sebagai berikut, hotel-hotel yang dibangun di berbagai kawasan dunia ketiga sebagaian besar merupakan brand-brand asing maka produk-produk yang digunakan pastinya didatangkan dari luar seperti, AC, eskalator dan beberapa material canggih. Belum lagi hidangan makanan dengan menggunakan bahan-bahan import, daging “steak”, buah-buahan. Alasan lain, paket wisata yang ditawarkan oleh operator wisata yang digunakan oleh para pelancong asing biasanya tidak terbatas pada satu negara. Contohnya: turis yang mengunjungi nepal dan membelanjakan 3000$ selama kunjungan 2 minggu di sana tidak sepenuhnya hanya di nepal, biasanya operator wisata menaruh kunjungan ke Nepal dalam satu paket ke Thailand dan India. Jadi Nepal tidak menerima devisa sepenuhnya dari turis tersebut, belum lagi hotel yang digunakan seperti yang saya jelaskan diatas yang pada akhirnya negara negara dunia ketiga hanya mendapat bagian yang sedikit dari arus perjalanan para pelancong.
Faktor lain adalah aspek politik dalam bisnis pariwisata yang didominasi oleh negara-negara kuat. Ini terlihat dari lembaga-lemabaga pariwisata internasional (IFTO, TOSG, dan lain sebagainya) yang berusaha menekan negara tujuan pariwisata dan mengatur perilakunya terhadap industri pariwisata. Seperti keberhasilan yang mereka lakukan pada pemerintah Tunisia, Tanzania dan beberapa negara lain agar dapat menuruti kemauan mereka.
Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh negara-negara dunia ketiga yang mempunyai berbagai macam tempat tujuan wisata agar kembali memikirkan persoalan tersebut dan menjamin bahwa devisa yang diterima dari bisnis pariwisata tidak tekirim balik ke negara asal turis.

