Jumat, 08 Februari 2008

MNC's or (MNC's)*

* based from concept by: Mir Zohair Husain

Dewasa ini dunia internasional sedang megalami proses perkembangan yang begitu cepat dan telah memunculkan kecenderungan similaritas dan uniformitas dari para individu, kelompok dan sistem sosial yang melewati atau bahkan menghapus batas tradisional negara. Perkembangan yang dimaksud adalah globalisasi. Globalisasi membawa segala sesuatu menjadi lebih mudah dan seolah-olah tidak terbatas akan ruang dan waktu. Hal ini sebenarnya telah berkembang pasca Perang Dunia II, dimana fenomena politik-ekonomi internasional ditandai dengan munculnya aktor-aktor non negara yang memainkan peran penting dalam dunia internasional. Akibatnya, hal ini menjadi pemikiran yang dominan dalam interaksi hubungan internasional saat ini dan semakin menguatkan paradigma Liberal sebagai fasilitator bagi perkembangan globalisasi.

Salah satu aktornya adalah perusahaan multinasional yang merupakan kekuatan utama ekonomi dalam globalisasi. Pada pertengahan 2003, beberapa perusahaan multinasional mencatatkan namanya pada 100 entitas ekonomi terbesar di dunia sebagai total aset terbesar di dunia. Sebut saja, Nike, Coca-cola yang yang total asetnya melebihi cadangan devisa gabungan beberapa negara-negara Afrika. Perusahaan multinasional juga membawa 10 persen perkembangan GDP dunia dan menaikan 33 persen kegiatan ekspor yang terjasi di dunia. Hal ini tentu saja membawa proses perdagangan dunia semakin berjalan dengan baik, karena dengan adanya perusahaan multinasional proses interaksi ekonomi berjalan dengan efektif dan membawa devisa bagi "Home Country". Maka, tidak heran jika PBB memperkirakan bahwa diseluruh dunia terdapat tidak kurang dari 35.000 perusahaan multinasional yang bergerak diberbagai bidang yang membangun jaringan kerjasama dengan tidak kurang 150.000 perusahaan domestik di pelbagai negara.

Namun, perusahaan multinasional dikritik karena penggunaan "economic power" dan "influence" untuk dapat masuk ke berbagai negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan mengeksploitasinya. Dengan kata lain pepatah yang cocok untuk hal ini adalah "dimana ada gula, disitu ada semut". Gula melambangkan sumber daya, semut melambangkan perusahaan multinasional.

Sisi menariknya adalah: apakah perusahaan multinasional sebagai mesin modernisasi ekonomi atau agen dari imperialisme?

Mesin modernisasi ekonomi

Perusahaan multinasional secara signifikan mendatangkan keuntungan bagi negara penerima (host country) seperti modal, teknologi dan sumber daya manusia yang unggul. China sebagai salah satu contoh negara dengan perkembangan ekonomi tercepat selama lebih dari tiga dekade akibat dari kerjasamanya dengan perusahaan multinasional. Hal tersebut menjadikan China sekarang ini menjadi rakasasa ekonomi di dunia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 10 persen setiap tahunnya dan menjadikan China sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia.

Perusahaan multinasional menciptakan pertumbuhan ekonomi di India dan membuat lingkungan bisnis menjadi stabil. India mendapat keuntungan dari perusahaan multinasional, untuk dapat memenuhi lingkungan politik dan sosioekonominya menjadi efisien. Dalam hal ini, perusahaan multinasional membawa pertumbuhan ekonomi global.

Perusahaan multinasional sebagai kekuatan integrasi dunia. Dengan membuka pekerjaan di negara penerima, perusahaan multinasional membawa standar hidup yang lebih baik bagi masyarakat (terkait erat dengan "corporate social responsibility"). Hal ini tentu saja mendatangkan keuntungan bagi "home country", mengapa? karena perusahaan multinasional dapat menekan angka pengangguran di sebuah negara sehingga akan menstimulasi perkembangan ekonomi masyarakat. Dengan kata lain, angka kemiskinan dapat ditekan.

Agen Imperialisme

Kedatangan perusahaan besar merupakan mekanisme yang dapat memblokade perkembangan ekonomi negara berkembang dan penghambat proses kemajuan. Dengan datangnya perusahaan multinasional, otomatis mendatangkan capital. Hal ini tentu saja mendatangkan proses ketergantungan yang membahayakan negara penerima karena negara penerima akan terus disuplai sehingga tidak akan bisa mandiri yang pada akhirnya terjadi ketergantungan (coba lihat teori ketergantungan klasik Frank, Paul Baran).

Perusahaan multinasional menciptakan kerusakan lingkungan yang diakibatkan dari eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari eksplanasi profit sebuah perusahaan multinasional yang terus menerus mengeksplotasi sumber daya demi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan juga merupakan hal yang dibuat oleh perusahaan besar ini sehingga menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan. Coba saja lihat Freeport dan lingkungan masyarakat disekitarnya....

Perusahaan multinasional menguntungkan "home country" daripada "host coutry". Pada saat membuka lapangan pekerjaan di "host coutry", posisi-posisi penting dalam perusahaan diisi oleh orang-orang "home country". Akibatnya tidak ada proses pembelajaran bagi sumber daya manusia lokal yang menyebabkan tidak adanya alih teknologi.

MNC's merupakan senjata yang mematikan negara-negara besar untuk dapat mengeruk keuntungan di negara-negara berkembang yang kaya akan sumber daya. MNC's dan negara bekerja dalam aliran yang sama dan saling membutuhkan. Negara (home) membutuhkan MNC's untuk dapat mendatangkan sumber devisa sedangkan MNC's membutuhkan negara untuk dapat mengcover setiap pergerakan dan juga memastikan setiap pergerakan MNC's yang terus menerus mencari "gula" diberbagai belahan dunia.

rerferensi:

1. Budiman, Arief, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta: Gramedia.
2. Goldstein, Joshua S dan Jon C P, International Relation: 2006-2007 Edition, Perason Longman.
3. Hadiwinata, Bob Sugeng, Politik Bisnis Internasional, Bandung:Kanisius.
4. Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan M Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.




Tidak ada komentar: